kls 1b

Kamis, 21 Oktober 2010

Kejaiban Hati

Keajaiban-Keajaiban Hati
Pasukan Tentara Hati
Allah Swt. Berfirman, “Tak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia (Allah) sendiri.” (QS Al-Muddatstsir [74]: 31). Berdasarkan itu dapatlah diketahui bahwa Allah Swt. Mempunyai dalam hati dan ruh makhluk-Nya serta dalam alam-alam-Nya  yang lain ‘tentara’ yang terhimpun, tak siapa pun selain Allah sendiri mengetahui hakikatnya maupun rincian jumlahnya. Adapun kini, kami hanya ingin menyebutkan secara singkat, tentang sebagian dari tentara hati. Sebab itulah yang berkaitan dengan tujuan kita.

Hati (atau kalbu) mempunyai dua macam tentara: pertama, yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan yang kedua, tidak dapat dilihat kecuali dengan mata hati. Dalam hal ini, hati seolah-olah sebagai raja, sedangkan tentaranya sebagai para pelayan dan pembantu. Itulah yang dimaksud dengan ‘pasukan tentara hati’.

Tentara hati yang dapat dilihat dengan mata kepala adalah tangan, kaki, mata, telinga, lidah dan semua anggota tubuh, yang tampak diluar maupun yang berada didalam tubuh. Semua itu bertugas melayani hati dan diciptakan untuk mengikuti perintahnya. Maka hati berkuasa penuh atasnya serta mengendalikannya sesuai keinginannya. Dan semua itu memang diciptakan untuk senantiasa tunduk patuh kepada hati, tak mungkin melawan ataupun memberontak terhadapnya. Apabila hati memerintahkan mata agar terbuka, ia pun terbuka. Dan apabila hati memerintahkan hati agar bergerak, iapun bergerak. Dan apabila hati memerintahkan lidah untuk berbicara seraya menegaskan perintahnya itu, maka lidah pun akan berbicara. Demikian pula anggota tubuh yang yang lain. Maka pada suatu sisi ketundukan semua anggota   tubuh dan indera kepada hati, mirip dengan ketundukan para malaikat keda Allah Swt. Sebab, semua malaikatpun memang diciptakan untuk tunduk patuh, takkan mungkin mereka bersikap berlawanan dengan Allah Swt., dan takkan mungkin mereka membangkang terhadap apa saja yang diperintahkan Allah Swt. Tugas mereka satu-satunya hanyalah melaksanakan apa saja perintah Allah kepada mereka. Hanya saja ada perbedaan antara sifat ketaatan malaikat dan ketaatan anggota tubuh. Para malaikat itu sadar sepenuhnya akan ketundukan dan ketaatannya, sementara bulu mata, misalnya, mematuhi hati dalam hal terbuka atau tertutupnya secara otomatis, tanpa menyadari keberadaannya sendiri ataupun kepatuhannya kepada hati.

Adapun kebutuhan hati kepada tentaranya ini, sama seperti kebutuhannya kepada kendaraan dan bekal untuk ‘perjalanannya’ yang memang untuk itu ia diciptakan. Yakni perjalanan menuju Allah Swt., melewati bermacam-macam terminal, untuk berjumpa dengan Nya. Untuk itulah hati (kalbu) diciptakan. “Dan tiadalah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada Ku.” (QS adz-Dzairat [51]:56). Adapun kendaraan hati adalah tubuhya; dan bekalnya adalah ilmu. Sedangkan sarana yang dapat menyampaikannya kepada bekalnya itu serta pemanfaatannya, adalah amal salehnya semata-mata. Dalam kenyataannya, seorang hamba takkan mungkin sampai kepada Allah Swt. Sebelum tubuhnya diam (mati) tak bergerak lagi, dan sebelum ia melewati (kehidupan) dunia ini. Ini mengingat bahwa ia harus terlebih dahulu melewati tempat perhentiannya yang terdekat, sebelum sampai keperhentiannya yang terjauh (yakni akhirat). Sebab, dunia ini adalah lading akhirat. Dan ia juga adalah sebuah terminal (atau tempat perhatian) hidayah. Dinamakan ’dunia’ (dari kata bahasa Arab dun-ya) yang berarti terdekat; yakni terminal yang tetrdekat diantara dua terminal. Maka hati manusia terpaksa mengambil bekal dari alam (dunia) ini,mengingat bahwa tubh adalah kendaraan yang akan mengantarkannya kealam yang lain. Untuk itu, ia perlu menjaga kesehataan tubuh, dengan (1) menyediakan makanan yang cocok baginya, dan (2) menjauhkannya dari penyakit-penyakit yang akan menyebabkan kebinasaannya.

Dengan demikian, untuk menyediakan makanan seperti itu, ia memerlukan dua jenis tentara: (1) yang batiniah, yaitu syahwah, (ambiisi, hasrat, selera makan, nafsu birahi dan sebagainya. Dan (2) yang lahiriah, yaitu tangan serta anggota-anggota tubuh lainnya nyang mampu mendatangkan makanan (dan berbagai kebutuhan lain). Maka diciptakanlah pelbagai macam syahwah yang diperlukan dalam hati dan diciptakanlah pula anggota-anggota tubuh yang merupakan alat bagi pemenuhan syahwah-nya itu.

Adapun untuk berhasil membela diri melawan berbagai penyebab kebinasaannya, hati memerlukan dua jenis pasukan tentara (1) tentara batiniah, yaitu ghadab (amarah atau emosi) yang dengannya ia akan mampu menolak pelbagai bahaya yang dapat membinasakan dirinya, dan melakukan pembalasan terhadap musuh-musuhnya. Dan (2) tentara lahiriah, yaitu anggota tubuh, seperti tangan dan kaki yang dengannya ia dapat brtindak berdasarkan sifat ghadab (tau emosi) yang dimilikinya. Semuanya itu terjadi diluar upaya sendir, sehingga angota-anggota tubhnya menjadi semacam senjata atau peralatan lain yang diperlukannya.

Disamping itu, seorang yang memerlukan makanan, tidak akan memperoleh sesuatu dari sekedar keinginananya untuk makan, sepanjang ia belum mengetahui tentang makanannya itu. Maka untuk itu ia membutuhkan dua jenis lagi tentara: (1) tentara batiniah, yaitu indera pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan dan perasaan. Dan (2) tentara lahiriah, yaitu mata, telinga, hidung dan sebagainya.

Beberapa Jenis Tentara Hati

Keseluruhan tentara hati tercakup dalam tiga jenis:
Pertama, yang berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong, baik untuk mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan cocok baginya, seperti halnya naluri syahwah (ambisi, hasrat dan sebagainya), ataupun untuk menolak sesuatu yang bermudarat dan merugikan, seperti halnya naluri ghadab (emosi atau amarah). Pendorong seperti ini adakalanya jga disebut: ‘keinginan’ atau ‘kehendak’ (iradah).

Kedua, yang berfungsi sebagai penggerak anggota tubuh demi mencapai pelbagai tujuan. Penggerak seperti ini, adakalanya disebut qudrah (kemampuan); tersebar diseluruh tubuh, terutama dalam otot-otot dan urat-urat.

Ketiga, yang berfungsi sebagai instrument yang mencerap (atau yang berpersepsi) dan mencari tahu tentang segala sesuatunya, seperti yang dilakukan oleh seorang mata-mata. Yaitu, indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan alat perasa, yang kesemuanya tersebar diberbagai anggota tubuh tertentu. Karenanya, semua itu disebut instrument pengetahuan dan pencerapan.

Dan bersama setiap ‘tentara hati’ yang berada dalam batin manusia, ada pula tentara jasmani, berupa organ tubuh yang terdiri atas lemak, daging, urat, darah dan tulang, yang kesemuanya itu memang dipersiapkan sebagai perlengkapan bagi semua pasukan tentara tersebut. Daya untuk daya untuk memegang berada pada jemari tangan, dan daya penglihatan berada pada mata, dan begitulah seterusnya. Namun kita sekarang tidak berbicara akan hal itu, karena itu adalah termasuk bagian dari alam nyata tidak kasat mata. Sementara yang akan kita bahas adalah tentang tentarab ‘batiniah’ yang tidak tampak bagi manusia.

Jenis ketiga yang berupa instrument pengetahuan dan pencerapan terbagi lagi menjadi dua bagian. Pertama, yang diletakan pada bagian luar tubuh, seperti kelima naggota tubuh yang masing-masing untuk pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan dan alat perasa. Dan kedua, yang diletakan dibagian dalam tubuh, atau yang biasa disebut rongga-rongga otak yang semuanya juga berjumlah lima. Setiap kali seseorang melihat suatu benda lalu memejamkan kedua matanya, ia akan melihat bentuk benda tersebut didalam benaknya. Yaitu yang disebut khayal (imajinasi). Kemudian bentuk it tetap ada padanya melalui sesuatu yang kita sebut sebagai tentara ‘penghafal’ (yakni daya ingat). Setelah itu ia akan memikirkan tentang apa yang telah diingatnya itu, dengan menghubungkan bagian yang satu dengan yang lainnya. Kemudian ia akan teringat kembali kepada apa yang pernah dilupakannya, dan menghimpun kembali dalam khayalnya seluruh makna yang berkaitan dengan benda-benda yang telah dikenalnya, dengan menggunakan al-hiss al-musytarak (common sense, dalam arti indera gabungan).

Dan seandainya Allah Swt. Tidak menciptakan daya hafal, daya pikir, daya ingat dan daya khayal, niscaya rongga-rongga otak akan kosong dari semua itu, sebagaimana halnya tangan dan kaki. Jelaslah bahwa semua jenis daya tersebut adalah termasuk ‘tentara batiniah’ yang berada ditempat-tempat batiniah pula.

"KEAJAIBAN HATI"  


Imam Gazali dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin memperincikan satu bab khusus yang membahaskan tentang Keajaiban Hati (`Ajaib al Qalb). Menurut Imam Al Gazali kemuliaan martabat manusia disebabkan kerana kesediaannya mencapai makrifat kepada Allah, dan hal itu dimungkinkan dengan adanya hati. Dengan hati, manusia mengetahui Allah dan mendekati Nya, sementara anggota badan yang lain berfungsi sebagai pelayannya. Hubungan hati dengan anggota badan diumpamakan olah Imam Al Gazali seperti raja dengan rakyatnya, atau seorang tukang dengan alat pertukangannya.

Hubungan hati dengan angota badan dikategorikan sebagai ilmu zahir, sementara akses hati ke alam langit (`alam al malakut) dikategorikan sebagai ilmu batin dimana didalamnya sarat dengan rahsia dan keajaiban. Sahal at Tusturi mengumpamakan hati sebagai `arasy sementara dada merupakan kursiy, satu perumpamaan yang menggambarkan bahwa di dalam diri manusia seakan terdapat satu kerajaan tersendiri dimana hati bertindak sebagai raja.

Al Gazali mengatakan bahwa hati mempunyai dua unit tentera (junudun mujannadah), iaitu unit yang dapat dilihat dengan mata kasar dan yang satu hanya dapat dilihat dengan mata hati. Yang pertama adalah anggota badan, sedang yang kedua adalah daya-daya; daya penglihatan, daya pendengaran, daya khayal, daya ingat, daya fikir dan daya hafal, yang bekerja dengan sistem yang sangat sophisticated dan hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Dari kombinasi tentera zahir dan batin itu lahirlah kehendak (iradah), marah (ghodob), keinginan (syahwat), pengetahuan (ilmu), dan persepsi (idrak). Hati juga diibaratkan sebagai pesawat pemancar (dzauq) yang dapat menangkap signal-signal yang melintas.
Kapasiti pesawat hati setiap individu berbeza-beza bergantung “design” dan “baterinya”.

Hati yang telah lama dilatih melalui proses riyadhah memiliki design dengan kapasiti besar yang mampu menangkap signal yang jauh termasuk signal isyarat tentang masa yang akan datang. Hati seorang sufi bisa menangkap signal tentang prospek sesuatu (seperti penglihatan Nabi Khidir) sehingga kata-katanya boleh jadi melawan arus atau tidak difahami oleh orang lain. dengan hatinya, dia juga bisa berkomunikasi dengan orang lain yang berada di tempat lain atau di zaman yang lain. Ketajaman hati juga diibaratkan sebagai cermin (cermin hati). Orang yang bersih dari dosa, hatinya bagaikan cermin yang bening, yang begitu mudah untuk berkaca diri. Orang yang suka mengerjakan dosa-dosa kecil, hatinya suram bagaikan cermin yang berdebu, jika digunakan kurang jelas hasilnya. Orang yang suka melakukan dosa besar pula, hatinya gelap bagaikan cermin yang disiram cat hitam, dimana hanya sebagian kecil saja bagiannya yang dapat digunakan. Sedangkan orang yang suka mencampuradukkan perbuatan baik dengan perbuatan dosa, hatainya kacau bagaikan cermin yang retak-retak, yang jika digunakan akan menghasilkan gambaran yang tidak benar. Hati yang sudah tumpul disebabkan “baterinya lemah” sayogianya diisi dengan stroom baru, yakni dengan melalui mujahadah dan riyadhah. Ilmu sebagai produk intelektuil (akal), kebenarannya bersifat nisbi, antara `ilmal yaqin dan `ainul yaqin, sedangkan ilmu sebagai produk hati atau qalb sebagai dzauq merupakan kebenaran hakiki (haqqul yaqin).

Sebagai penutup mari kita cuba bercermin kepada hati kita masing-masing agar kita juga tahu seberapa besar kapasitinya. Kata Imam Al Gazali, orang yang tidak mengenal hati sendiri, pasti dia lebih tidak mengetahui lagi tentang hal-hal lain.
Wallahu a`lam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar